Sinergi Dakwah, Menuju Surabaya Bersih Mengubah Citra Dolly
Sinergi Dakwah, Menuju Surabaya Bersih, Mengubah Citra Dolly
A. Surabaya ?
merupakan pelabuhan utama dan pusat perdagangan komersial di wilayah timur Indonesia, dan sekarang menjadi salah satu kota terbesa di Asia Tenggara. Bersama dengan Lamongan di barat laut, Gresik di barat, Bangkalan di timur laut, Sidoarjo di selatan, Mojokerto dan Jombang di barat daya menjadi kesatuan yang dinamakan Gerbang Kertosusila, seperti Jabodetabek di Jakarta dan sekitarnya.
Sebagai ibukota provinsi, Surabaya juga merupakan rumah bagi banyak kantor dan pusat bisnis. Perekonomian Surabaya juga dipengaruhi oleh pertumbuhan baru dalam industri asing dan beberapa segmen industri yang akan terus berkembang, terutama dalam hal properti, dimana gedung pencakar langit, mall, plaza, apartemen dan hotel berbintang akan terus terbangun setiap tahunnya.
Sebagai kota metropolitan, Surabaya dihuni oleh multi etnis dan banyak suku bangsa, seperti warga Tionghoa, suku Jawa, Batak, Madura, Bali, Bugis, Sunda dan banyak lagi. Ada juga warga negara asing termasuk Malaysia, Cina, India, Arab dan Eropa.
Sebagian besar di seluruh negara tepatnya di kota-kota besar ada lokasi prostitusi. Termasuk Indonesia, siapa tak kenal dengan kawasan Dolly yang berada disudut kota Surabaya, Jawa Timur.
Konon, Dolly di lokalisasi pelacuran disebut-sebut yang terbesar se-Asia Tenggara. Betapa tidak, sedikitnya 9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut. Pria hidung belang kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini sekadar untuk memuaskan birahi.
Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi dengan kompleks lokalisasi di negeri lain, misalnya; kawasan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Lokalisasi ini hampir menyelimuti seluruh jalan di kawasan itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun kerap menyeberang ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang dijajakan di Dolly.
Bicara soal Dolly, tak banyak yang tahu tentang bagaimana sejarah lokalisasi ini berdiri hingga bisa besar dan terkenal seperti sekarang.
B. Apa itu dolly ????
Sebagian besar di seluruh negara tepatnya di kota-kota besar terdapat lokasi prostitusi. Termasuk Indonesia, siapa tak kenal dengan kawasan Dolly yang berada disudut kota Surabaya, Jawa Timur.
Konon, Dolly merupakan kawasan lokalisasi pelacuran yang disebut-sebut terbesar se-Asia Tenggara. Betapa tidak, sedikitnya 9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut. Pria hidung belang kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini sekadar untuk memuaskan birahi.
Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi dengan kompleks lokalisasi di negeri lain, misalnya; kawasan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Lokalisasi ini hampir menyelimuti seluruh jalan di kawasan itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun kerap menyeberang ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang dijajakan di Dolly.
Bicara soal Dolly, tak banyak yang tahu tentang bagaimana sejarah lokalisasi ini berdiri hingga bisa besar dan terkenal seperti sekarang.
Sejarah mencatat, kawasan Dolly rupanya dahulu adalah tempat pemakaman warga Tionghoa pada zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman ini disulap oleh seorang Noni Belanda bernama Dolly sebagai tempat prostitusi khusus bagi para tentara negeri kincir angin itu. Bahkan keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih ada hingga kini malah tidak meneruskan bisnis esek-esek ini.
Sebagai pencetus komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya ini maka perempuan dengan sebutan tante Dolly itu kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal muasal terbentuknya gang lokalisasi prostitusi tersebut.
Dalam beberapa kisah tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya, tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.
Dalam perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.
Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Terdapat lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut dan panti pijat plus yang berjejer rapi. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada para pengunjung.
Tidak hanya itu, Dolly juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkait menjalin sebuah simbiosis mutualisme.
Kisah lain tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku berjudul "Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly" yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku itu disebutkan dulu kawasan Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
Baru sekitar tahun 1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam. Makam China itu tertutup bagi jenazah baru, dan kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya. Ini mengundang orang mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan membongkar bangunan makam, menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakan saja.
Setahun kemudian, 1967, muncul seorang pelacur wanita bernama Dolly Khavit di kawasan makam Tionghua tersebut. Dia kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri rumah pelacuran pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain bernama T, Sul, NM, dan MR. Tiga di antara empat wisma itu disewakan pada orang lain. Demikian asal muasal nama Dolly.
Dolly semakin berkembang pada era tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan di sana semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.
C. Sejarah Gang Dolly ?
Dolly Van de Mart
Banyak beragam kisah terkait awal berdirinya Dolly, salah satunya menyebutkan bahwa Dolly adalah merupakan nama dari salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi tersebut di Surabaya.
Dolly Van de Mart seorang perempuan keturunan Belanda yang membuka sebuah wisma berisikan para perempuan cantik yang utamanya digunakan untuk melayani tentara Belanda ketika itu. Karena pelayanan yang sangat memuaskan yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, maka para tentara Belanda itupun akhirnya tertarik untuk kembali datang berkunjung.
Tidak hanya itu saja, namun terdapat juga sejumlah masyarakat pribumi yang juga penasaran untuk singgah sampai akhirnya rumah bordil itupun ramai.
DollyKhavit
Selain kisah Dolly Van de Mart, ada lagi kisah Dolly lainnya. Dalam kisah yang satu ini menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kawasan pemakaman Cina yangkemudian dibongkar untuk dijadikan hunian.
Lalu pada sekitar tahun 1967-an ada seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan tante Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas tante Dolly untuk pertama kalinya mendirikan rumah bordilnya.Usaha rumah bordilnya ini lantas membuat orang penasaran untuk singgah sehingga akhirnya Dollypun menjadi populer.
Konon sejak saat itulahbisnis prostitusi inipun mulai menjalar, banyak kemudian puluhan wisma yang kurang lebih melakukan bisnis yang sama bermunculan. Mungkin orang berpikir Gang Dolly merupakan tempat yang menjijikkan, najis dan haram. Namun ketahuilah terkadang pilihan itu menjadi sulit ketika himpitan hidup mulai mencekik. Negara, Masyarakat, dan Siapapun juga ikut bertanggung jawab atas permasalahan ini.
D. Sinergi Dakwah, mengubah Dolly kelam menuju Dolly Jaman Now
Setelah menelisik lebih dalam tentang “surabaya dan dolly”, kali ini penulis sedikit berbagi cerita tentang kesan dan pengalaman dari hasil kuliah lapangan penulis bersama guru besar prof. Dr. Ali aziz Mag,. Beserta mahasiswa prodi KPI uin sunan ampel surabaya 13 april 2019 lalu.
1. Rumah Allah, sebagai markas pembersihan Gang Dolly
Rumah allah ? Ya, tentu saja masjid. Yakni masjid At taubah yang terletak di perkampungan padat penduduk tepatnya di jl. Dukuh kupang surabaya. Masjid At taubah yang dulunya Musholla Al huda merupakan tempat ibadah sekaligus saksi bisu atas perjuangan orang orang baik yang peduli surabaya. Mengapa ? Karena di temp inilah pendakwah dari berbagai kalangan bersinergi, berjuang mengubah citra gang dolly.
Berawal dari 17 Februari 1989, Mushola al-Huda berganti nama dengan Masjid At-Taubah dengan dilaksanakan sholat jum’at pertama yang khotbahnya berkumandang di langit Dolly saat itu. Seorang ta’mir masjid yang sampai sekarang masih menjabat mengisahkan betapa bermaknanya temoat ini. auntuk mengalihkan perhatian warga dan memperkuat keimanan di hati mereka, masjid ini menyelenggarakan berbagai aktivitas pengajian rutin, tabligh akbar dan lain sebagainya. Inilah proses awal perubahan gang Dolly.
2. Masuk wisma bareng kyai prostitusi
Kyai Khoiron Syuaib adalah pelopor dakwah kepada para PSK dan mucikari di area lokalisasi. Puluhan tahun rela dan ikhlas menebar kebaikan di area prostitusi tanpa mengharap imbalan, yang diharapkan hanyalah wanita-wanita yang terlanjur terjebak dalam dunia lingkaran setan dapat berhijrah.
Kyai yang dikenal dengan Kyai Prostitusi ini senantiasa ikhlas, sabar dan pekerja keras. Begitulah karakter seorang pendakwah, tak pantang menyerah. Karena beliau sangat yakin, mitra dakwahnya pasti ingin keluar dari lingkaran setan yang mengerikan.
3. Dakwahprenuer bersama bekas pelayan restoran yang kini jadi pengusaha
Sunarto salahudin, pria kelahiran gersik dari latar belakang keluarga sederhana. Saat usia muda sunarto memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya menuju kota metropolitan, surabaya. Sunarto datang untuk mengadu nasib, menyambung hidup dengan segala keterbatasan keluarganya. Sunarto Salahuddin dididik menjadi anak yang bermental baja dalam menuntut ilmu . Ketika sang Ibu wafat dia berjuang menyambung hidupnya dengan menjual apapun yang dimilikinya.
Dari banyaknya kisah hidup sunarto salahudin, penulis mengambil 1 prinsip yang beliau pegang. Yakni, kejujuran. Sifat jujur adalah karakter yang sangat beliau tekankan dalam pemaparannya di studi lapangan kami saat itu. Dalam dunia bisnis, kejujuran adalah harta yang berlau dimana-mana. Dengan kejujuran Allah memudahkan segala persoalan hidup kita. Kejujuran dan pelayanan, inilah kunci dari kesuksesan beliau hingga menjadi Owner PT Berkah Aneka Laut.
Tak mudah memang, penuh perjuangan dan diperlukan kesabaran serta ketaatan yang ekstra. Namun, penulis bisa menyimpulkan bahwa hidup bukan tentang dsrimana kita berasal, tapi tentang kemana kita akan melangkah.
Lantas, bagaimana peran sunarto shalahudin si pengusaha besar, dalam hijrahnya gang dolly ??
Disaat situasi gang dolly membutuhkan perhatian dan uliuran dana, sunarto hadir bersinergi dengan pendakwah lain. Ya, tidak dengan berceramah tapi dengan cara yang sungguh luar biasa lainnya.
Sunarto membeli rumah-rumah dengan harga yang dibandrol tinggi di kawasan Dolly. Kemudian rumah tersebut dibuka sebagai lahan untuk usaha halal dan produktif lainnya.
Sungguh indah sinergi dakwah yang beliau lakukan. Disini penulis semakin yakin, siapa pun dan kapanpun semua orang berhak menjadi seorang pendakwah.
4.Preman masuk masjid
Namanya Gatot Subiantoro. Dulu ia adalah salah satu penguasa di kawasan lokalisasi Bangunsari Surabaya. Selain Dolly, Bangunsari adalah lokalisasi yang pernah berjaya di Kota Pahlawan itu. Namun demikian, berkat aksi pendampingan beberapa ulama yang tergabung dalam IDEAL (Ikatan Dai Area Lokalisasi), Bangunsari bisa ditertibkan menjadi hunian rumah tangga. Di samping itu, ada sosok KH. Khoiron Syuaib yang puluhan tahun membantu PSK keluar dari “lembah hitam”.
Pria bertubuh tinggi besar ini hampir 25 tahun malang-melintang dalam bisnis haram. Berbagai kegiatan “maksiat” tentunya pernah ia lakoni. Sejak tahun 2000, ia insaf. Allah memberinya hidayah melalui ucapan KH. Khoiron Syuaib, pria yang sebelumnya ia musuhi.
“Saat itu Abah ceramah. Ya, isinya kayak biasanya. Tapi saat mendengar kalimat ini, ‘Harta itu tidak ada batasnya, tapi kalau umur ada batasnya’, aneh, saya langsung gemetar. Hati saya nelangsa, ingat mati.
Abah adalah panggilan sayang dari Gatot untuk KH. Khoiron Syuaib. Kiai Khoiron (begitu sebutan populernya) adalah dai yang mengentaskan para PSK di lingkungan lokalisasi di Surabaya, khususnya di Lokalisasi Bangunsari. Berbagai caci maki dan teror pernah ia rasakan. Adapun Gatot, saat itu merupakan pihak yang selalu merintangi jalan dakwah Kiai Khoiron. “Lha, para PSK ini kan lahan kehidupan saya. Kalau PSK berhenti, saya mau makan apa? Dulu saya mikirnya seperti itu.” kata Gatot.
Sebelum berhenti dari kehidupan kelamnya, Gatot kebagian tugas mencari calon PSK di berbagai daerah. Pelosok Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah pernah ia jelajahi guna mencari “mangsa”. Menurutnya, di setiap daerah selalu ada pemasok tetap calon PSK. Calon PSK ini kemudian disuplai ke luar Jawa oleh jaringan tertentu. Paling banyak ke Papua. Penyebab perempuan ini menjadi PSK bermacam-macam: ada yang terdesak ekonomi, dikhianati suami, hingga dijual oleh suaminya sendiri maupun oleh keluarganya. “Ada pula yang ditipu,” katanya menambahkan.
Lucunya, saat itu ia sering kali bermain judi bersama teman-temannya di samping rumah Kiai Khoiron. Sambil mabuk, tentunya. Saat Kiai Khoiron pulang dari masjid dan melewati gerombolan penjudi tersebut, Gatot malah menyoraki Kiai Khoiron, “Halooo Pak Kiai….mari main, Pak Kiai…!” kata Gatot sambil menirukan ucapan di masa lalunya tersebut. Adapun Kiai Khoiron saat itu hanya tersenyum sabar.
Dikonfirmasi mengenai hal ini, Kiai Khoiron membenarkan. Ia mengaku tugasnya hanya menyampaikan apa yang telah ia ketahui, perkara hidayah adalah hak prerogratif Allah. Saat ini, oleh Kiai Khoiron, Gatot dilibatkan dalam kegiatan pengentasan PSK, sekaligus menjadi salah satu pengurus di Pondok Pesantren Raudlatul Khoir, pesantren yang dirintis oleh Kiai Khoiron di belakang kediamannya.
Dalam proses mengentaskan PSK, sering kali Gatot menemui fakta yang memiriskan hatinya Mengubah jalan hidup, dari preman menjadi relawan, bukan hal mudah. Selain mendapatkan tentangan keras dan permusuhan dari rekan-rekan sesama preman, ia masih gamang memikirkan rezeki buat keluarganya seusai berhenti dari kegiatan di lokalisasi.
“Tapi oleh Abah Khoiron, saya diyakinkan agar berusaha mencari penghasilan yang halal. Akhirnya, alhamdulilah, saya menekuni bisnis jual-beli mobil. Ayo kalau ada teman yang mau beli, dijamin kualitasnya.”
Ujargatot.
Gatot menuturkan, saat ini dirinya lebih tenang menjalani hidup. Ia hanya ingin tenang menjalani kehidupan sembari menebus kesalahannya di masa lalu dengan berbuat baik kepada siapapun, kapanpun, dan di manapun. “Setelah saya berhenti, alhamdulillah, ada beberapa teman yang ikut. Bahkan, berkat pendekatan Abah Khoiron, ada suami-istri mucikari yang bertobat kemudianberangkathaji.” kata pria yang mengidolakan Bung Karno dan Gus Dur ini.
Setelah melihat berbagai kisah dari elemen yang berbeda, dapat diketahui bagimana pentingnya sinergi dalam dakwah. Ibarat sapu, tidoak akan mampu mebersihkan kotoran jika ia hanya 1 lidi yang berdiri. Begitu juga dakwah, dakwah akan lebih maksimal jika dilakukan secara kerja sama, merangkul beberapa elemen masyarakat. Tidak melulu dakwah di dalam masjid, dan tidak harus mengandalkan mahirnya ceramah. Tapi dakwah, bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun serta dengan cara yang berbeda guna menuju kebaikan dan mendapat ridho Allah swt.
5. Selamat tinggal dolly, Dolly yang dulu bukanlah Dolly yang sekarang
SURABAYA, KOMPAS.com — Lokalisasi prostitusi Dolly dan Jarak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Jawa Timur, akhirnya resmi ditutup pada Rabu (18/6/2014) malam.
Acara penutupan yang digelar di gedung Islamic Center Surabaya itu dihadiri Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Gubernur Jatim Soekarwo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Ketua DPRD Surabaya Macmud, Kapolda Jatim, Garnisun, Kapolres Surabaya, anggota DPRD, kepala SKPD Pemkot Surabaya, MUI, LSM, PSK, mucikari, dan warga sekitar Dolly.
---Sedikit cuplikan berita di tahun 2014.
Dengan segala usaha dan doa tepat di tahun 2014, kawasan lokalisasi gang Dolly resmi ditutup. Berkat sinergi dakwah dari berbagai elemem serta tak lupa kegigohan dan perjuangan srikandi surabaya, yakni Ibu Tri Rismaharini. Dengan jalan yang begitu rumit dan panjang, bu risma senantiasa teguh memperjuangkan penutupan meski menuai pro kontra.
“ Kalau saya mati mengurus ini, tolong ikhlaskan jangan dituntut”—ujar wanita tangguh tersebut.
Kebijakan pemerintah terhadap gang dolly tersebut tentu menyisahkan dampak yang berkepanjangan, seperti akan dikemanakan ribuan pekerja seksual ? Bagaiman perekonomian masyarakat sekitar ? Hingga kekhawatiran akan meluasnya prostitusi secara liar di surabaya.
Hal tersebut, diantisipasi dengan menyiapkan berbagai macam solusi. Seperti membentuk berbagai usaha kecil menengah (UKM), memberikan pelatihan industri kreatif kepada mantan pekerja seksual, serta menyiapkan modal untuk melakukan usaha tersebut.
Hingga kini sudah ada sebanyak 13 UKM di antaranya merupakan industri kecil makanan olahan seperti TBM Kawain, olahan bandeng, Jarwo Tempe, Sami Jali, Pangsit Hijau, Cak Mimin (dian rujak), UKM Puja (telur asin, botok telur asin), UKM Squel (olahan keripik), UKM Vigts (jamu herbal), Gendis (bumbu pecel), UKM Henrik (olahan semanggi dan es puter) dan olahan minuman dari rumput laut.
Sedangkan sisanya produk fashion seperti batik dengan nama UKM Jarak Arum, Alpujabar, Canting Surya, dan Warna Ayu, serta industri bernama KUB Mampu Jaya memproduksi sandal, sepatu dan goody bag, sablon, minyak rambut pomade dan semir.




Kok bagus sih menambah wawasan banget
BalasHapus